3 Hal yang Paling Sering Ditanya Seputar Risak/Bullying

Merisak atau bullying dapat terjadi pada setiap usia. Kata bullying dapat menjadi momok yang menakutkan dan traumatis bagi sebagian orang. Saya jadi ingat cerita salah seorang teman yang bekerja di sebuah kantor multinasional di Jakarta. Ketika menjalani masa orientasi masuk Sekolah Menengah Atas (SMA), salah seorang kakak kelas memaksa teman saya untuk melakukan hal yang tidak disukainya.



Memahami 3 Peran dalam Risak/Bullying: Pelaku, Korban dan Pengamat

Hal pertama yang terlintas dalam pikiran kita ketika mendengar kata risak atau bullying, adalah pelaku. Siapa, apa yang dilakukan dan bagaimana cara melakukannya. Padahal risak/bullying tidak sekedar berfokus pada pelaku semata. Terjadinya risak sesungguhnya didasari atas formasi hubungan antara pelaku, korban dan pengamat. Yuk mengenal lebih jauh peran mereka masing-masing!


3 Karakteristik Risak/Bullying

Dulu sewaktu kita masih menjalani peran sebagai anak dan pelajar di sekolah, kekhawatiran akan mengalami risak atau bullying oleh saudara atau kakak kelas sangatlah besar. Kegiatan OSPEK menjadi sesuatu yang dimaklumi dan dianggap hal yang wajar. Tidak selesai sampai di sini, ternyata setelah kita dewasa pun, bayang-bayang akan mengalami kejadian yang sama masih ada, baik dari rekan kerja, atasan maupun teman kumpul arisan.




3 Tipe Cyberbullying

Dalam diskusi kelas Bicara Rangkul dengan topik Cerdas Digital, seringkali kami mendengar curhatan orangtua anak remaja, khawatir akan cyberbullying. Begitu mudahnya meng-capture dan meng-upload gambar melalui perangkat handphone, memudahkan siapa saja melakukan cyberbullying terhadap orang yang tidak disukainya.


Mencegah Anak-Anak Melakukan Bullying Berbasis SARA

Dampak buruk perbincangan atau perdebatan orang dewasa tentang SARA kepada anak-anak sering diabaikan. Padahal, kemampuan anak-anak dalam meniru apa pun yang dilihat dan didengar sangat rentan menyebabkan anak-anak dengan mudah mempraktikkan ucapan berbau SARA yang didengar atau dilihatnya.